Liverpool Alami Mimpi Buruk, Ini Analisa Penyebabnya

LIVERPOOL – Hanya dalam empat hari saja, salah satu tim papan atas di Liga Premier Inggris, Liverpool terlempar dari dua turnamen bergengsi di Inggris. Pertama tersisih dari Piala Liga Inggris, dan kedua juga tidak bisa melanjutkan perjalanan di Piala FA.

Tengah pekan lalu, secara mengejutkan Liverpool dibekuk Southampton dengan skor 1-0. Parahnya, laga itu berlangsung di markas sendiri, Anfield. Alhasil, pasukan Juergen Klopp gagal melaju ke final Piala Liga Inggris setelah kalah agregat 2-0 dari Soton.

Mimpi buruk kembali dialami The Reds akhir pekan ini. Kembali Anfield tak lagi angker bagi tim tamu. Adalah tim dari divisi bawah, Wolverhampton Wanderers yang mengakhiri petualangan Liverpool di Piala FA pada babak keempat.

Menjamu Wolverhampton di markas sendiri, Anfield, pada babak keempat, Sabtu (28/1/2017) malam WIB, The Reds menyerah dengan skor 1-2. Dua gol Wolverhampton di babak pertama hanya mampu dibalas sekali oleh Divock Origi di pengujung babak kedua. Kekecewaan wajar terasa di seantero Anfield malam ini.

Dilansir dari Sky Sport, keterpurukan ini bukan semata kesalahan dari sang arsitek, Juergen Klopp. Berdasarkan analisa media dari Inggris itu, Si Merah memang seperti kehilangan sentuhan akibat minimnya skuat yang dimiliki Klopp. Para pelapis tidak memiliki kualitas sepadan dengan pemin inti.

Menurut Sky Sport, Klopp sejauh ini telah meletakkan fondasi yang bagus di tubuh Liverpool. Jadi, dengan kemampuannya yang telah terbukti, tentu saja pria asal Jerman itu bisa membangitkan kembali pasukan Anfield di Liga Premier Inggris.

“Liverpool terlihat seperti mereka sudah kehabisan energi. Tapi masih ada paruh kedua. Mereka bisa memanfaatkan situasi untuk bangkit,” tutur,” pundit Sky Sport Jamie Carragher .

Menurut Jamie Carragher, kelelahan di pasukan utama memaksa Klopp untuk menurunkan pemain cadangan. Sayangnya, kualitas pemain lapis kedua belum semumpuni pasukan utama. Hasilnya, Liverpool sangat keteteran.

“Di awal musim Liverpool sepertinya akan menjadi penantang gelar juara. Tapi, sayangnya, kedalaman skuatnya tidak terlalu bagus untuk memenangkan gelar. Yang bisa mereka lakukan berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlempar dari posisi keenam di akhir musim,” lanjut mantan pemain Liverpool itu.

Selain kualitas pemain cadangan yang tidak bagus, Sky Sport juga memberikan analisa keterpurukan Liverpool lantaran ditinggal salah satu bintangnya, Sadio Mane. Mane yang memperkuat Senegal di Piala Afrika 2017 memang menjadi kekuatan ini di lini tengah.

Terbukti, tanpa kehadiran Mane yang bisa menjadi pembeda dalam setiap laga, Liverpool telah menelan empat kekalahan tanpa kehadirannya. Selain itu, Cederanya Joel Matip juga membuat lini belakang Liverpool cenderung terbuka. Terlihat dari gol kedua Wolverhampton yang memanfaatkan lengahanya lini tengah.

Sekali lagi, Liverpool memiliki rekor bagus saat Matip bermain. Hanya kejebolan 1,1 per pertandingan. Dan bertambah 1,4 saat dirinya absen.

Untuk itulah, Klopp disarankan segera untuk merampungkan pekerjaan rumah ini. Apalagi lawan berikutnya yang bakal dihadapi adalah pemuncak klasemen sementara Liga Premier Inggris, Chelsea. Kembali Liverpool akan bertanding di depan pendukungnya sendiri di Anfield, Rabu mendatang. Modal bagus sebetulnya didapat Liverpool setelah pada pertemuan pertama sukses memecundangi Chelsea.

Bisa juga Liverpool segera melakukan pembelian pemain sebelum bursa transfer ditutup. Apalagi mereka menghabiskan uang lebih sedikit pada musim panas lalu jika dibandingkan dengan timn lainnya. Mereka hanya mengeluarkan kocek sebesar £69.9 juta . Bandingkan dengan Chelsea yang membeli pemain mencapai (£123.5m), Manchester United (£149.6 juta) dan Manchester City (£174 juta).

No Comments

Leave your comment